GURU
DALAM PEERSPEKTIF PENDIDIKAN INTERDISIPLINR
MAKALAH
Diajukan untuk
memenuhi tugas mata kuliah:
PENDIDIKAN
INTERDISIPLINER
Dosen Pengampu:
Dr. Afiful Ikhwan,
M.Pd.I
Oleh:
Jarmi
15111940
PAI C-SMT 5
PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH PONOROGO
Januari 2017
DAFTAR ISI
Halaman
Judul ........................................................................................ i
Daftar
Isi ................................................................................................ ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang...................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah................................................................. 2
C.
Tujuan Penulisan .................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pendidikan Islam Transdisipliner ........................................ 3
B.
Sumber daya manusia (SDM) Guru dalam
Perspektif Pen-
Didikan Interdisipliner
........................................................ 5
C.
Pendekatan Integratif dalam Pedidikan
Interdisipliner ...... 6
BAB III PENUTUP
Kesimpulan................................................................................ 8
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 10
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Masalah
Pendidikan
Islam dengan berbagai karakteristiknya yang penuh dinamika tidak bisa
dilepaskan dari persoalan-persoalan yang melingkupinya, mulai dari persoalan
sistem yang dikembangkan, dikotomi keilmuan, kurikulum, hingga orientasi output
SDM (Sumber Daya Manusia) yang diharapkan terutama sosok seorang guru.[1]
Dalam hal ini guru sebagai sumber daya manusia yang memegang peranan penting
dalam suatu proses pendidikan. Sebenarnya tidak hanya guru yang memegang
peranan penting dalam proses pendidika, sarana prasarana bukan manusia juga
memegang peranan penting dalam proses pendidikan. Dalam hal itu suatu proses
pendidikan akan berjalan jika semua hal yang berkaitan dengan suatu proses
pendidikan saling melengkapi, maka akan terjadi suatu proses pendidikan yang stabil,
tertata, dan berjalan dengan sistematis sesuai dengan aturan dalam sebuah
lembaga pendidikan
Persoalan-persoalan tersebut menjadi problem menahun yang mestinya
dapat dicarikan solusinya sebaik dan secepat mungkin. Selama ini apabila
dihubungkan dengan disiplin keilmuan yang dikembangkan, ada anggapan bahwa
pendidikan Islam identik dengan ilmu-ilmu agama saja. Padahal sejatinya,
pendidikan Islam itu membelajarkan dan mengembangkan berbagai disiplin ilmu
secara total. Pendidikan Islam idealnya tidak hanya sebatas menanamkan spirit
ritual dalam menjalani perbagai dinamika kehidupan, tetapi juga mampu memberi
makna dengan beragam aktivitas sehingga menyumbang secara aktual terhadap
peradaban.[2]
Dalam suatu proses
pembalajaran tidak ada suatu pendekatan pembelajaran yang tepat untuk semua
topik dan semua situasi, oleh karena itu guru dalam menentukan metode dan
pendekatan pembelajaran apa yang harus dipilih harus senantiasa memperhatikan
kondisi siswa,
sarana prasarana yang ada maupun materi pembalajaran apa yang akan dibahas.
B. Rumusan
masalah.
1.
Apa pengertian Pendidikan Islam
transdisipliner?
2.
Bagaimana definisi Sumber Daya Manusia (SDM)
guru dalam perspektif pendidikan Islam?
3.
Apa pengertian dari pendekatan integratif dalam
pendidikan interdisipliner?
C. Tujuan penulisan
Adapun tujuan yang ingin di capai adalah;
1.
Untuk mngetahui apa pengertian Pendidikan Islam
transdisipliner.
2.
Untuk mengetahui bagaimana pengertian guru dalam
perspektif pedidikan islam.
3.
Dapat mengetahui pengertian pendekatan
integratif. dalam pendidikan interdisipliner.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pendidikan
Islam Transdisipliner
Transdisiplinaritas (transdisciplinarity) atau
transdisipliner (transdisciplinary) merupakan istilah yang digunakan
dalam dunia keilmuan sebagai sebuah pendekatan multi perspektif.
Istilah-istilah lain yang disandarkan pada kata “discipline” adalah “multidisciplinary”
dan “interdisciplinary”. Jika multidisciplinary mengasumsikan
adanya pembahasan atas sebuah tema melalui pendekatan dan sudut pandang atas
bidang studi masing-masing secara otonom, maka interdisciplinary dalam
konteks pendidikan mencoba mengintegrasikan tema bahasan ke dalam beberapa mata
pelajaran. Sedangkan pendekatan transdisipliner (transdisciplinary approach)
lebih melihat sebuah tema bahasan bukan saja dari perspektif mata pelajaran,
tetapi juga menimbang konteks kekinian dan kebutuhan siswa berdasarkan bakat
dan minatnya. Dengan demikian, transdisciplinary approach dalam konteks
pembelajaran membutuhkan keterampilan dan kreativitas guru yang luar biasa
untuk memandang dan mengajarkan sebuah subjek/materi/mata pelajaran berdasarkan
tema, konsep, sekaligus keterampilan yang sesuai dengan kehidupan nyata dan
minat siswa dalam mendorong nilai-nilai kebaikan ke arah kebajikan yang pasti
dan bertanggungjawab.[3]
Menurut Wikipedia, “Transdisiplinaritas atau transdisipliner
dikonotasikan sebagai strategi penelitian lintas disiplin untuk menciptakan
suatu pendekatan yang holistik”. Dalam Simposium Internasional tentang transdisciplinarity
yang diselenggarakan oleh UNESCO,[4]
beberapa pakar mendefiniskan bahwa “transdisiplinaritas adalah konsep dan
praktik pengetahuan yang terintegrasi, untuk menangani isu-isu penting
berdasarkan prosedur tertentu secara integratif. Konsep disiplin berhubungan
erat dengan dua persoalan yaitu ketidakmengertian seseorang terhadap bahasa
yang digunakan oleh disiplin ilmu itu sendiri, kemungkinan kedua adalah adanya
pengertian bahwa bahasa yang digunakan oleh disiplin ilmu itu sepakat
memperlakukan disiplin ilmu itu dengan ilmu yang berbeda”. Secara sederhana transdiscilinary
merupakan suatu proses yang dicirikan dengan adanya integrasi upaya dari
berbagai disiplin (multy-disciplines) untuk memahami suatu isu atau
masalah.[5]
Dalam menjelaskan asas transdisiplinaritas pendidikan, Hasan
mengemukakan bahwa pendidikan transdisiplin atau transdisipliner tetap
berasaskan pada pendidikan disiplin ilmu tetapi tidak dalam pengertian
pendidikan disiplin ilmu yang tradisional. Pendidikan transdisipliner memiliki
pandangan bahwa kepentingan umat manusia adalah kepentingan utama dan bukan
kepentingan disiplin ilmu. Disiplin ilmu tidak boleh menjadi pembatas kotak
cara berfikir, bersikap dan bertindak seseorang; disiplin ilmu yang diajarkan
harus bersifat terbuka dan kebenaran yang diajarkan selalu berkembang.
Penekanan pada aspek manusia ini bukan suatu yang baru dalam pendidikan tetapi
dominasi penguasaan “scholastic knowledge” yang mendominasi kepedulian
pada unsur manusia tersebut.[6]
Gerakan transdisipliner secara resmi dicanangkan melalui suatu
deklarasi, tahun 1994, ketika diselenggarakan kongres pertama transdisciplinary
di Convenco da Arrabida, Portugal. Charter/piagam yang ditulis dalam
delapan bahasa (Inggris, Perancis, Portugis, Spanyol, Romania, Italia, Arab,
dan Turki) berisikan preamble, 14 article dan satu artikel final
ini menjadi “fundamental principles” landasan bagi pengembangan visi,
ruang lingkup, penelitian, pendidikan, moral dan cara kerja masyarakat
transdisipliner. Preamble berisikan enam pernyataan mengenai dunia ilmu
pengetahuan, kehidupan masyarakat dunia, perkembangan teknologi yang melahirkan
ketimpangan-ketimpangan dan ketidakmampuan menyelesaikan berbagai masalah
kemanusiaan. Keempat belas artikel yang dirumuskan antara lain berkenaan dengan
permasalahan realitas, posisi transdisipliner terhadap disiplin ilmu yang ada,
objektivitas dan definisi keilmuan, filsafat, agama dan mitos, kebudayaan,
pendidikan, ekonomi, etika, dan toleransi keilmuan.[7]
Tujuan dikembangkan transdisiplinaritas ini bukan untuk membentuk suatu
disiplin ilmu baru, melainkan sebuah pendekatan untuk membangun paradigma dan
pemahaman yang diperlukan untuk memecahkan problem keilmuan dengan proses
lintas disiplin dari berbagai perspektif yang berbeda dalam dinamika peradaban
yang terus berkembang.
B. Sumber
Daya Manusia (SDM) Guru dalam Perspektif Pendidikan Interdisipliner
Guru merupakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang
sangat penting dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu kajian-kajian
transformatif pendidikan islam memberi warna tersendiri bagi pengembanga disiplin keilmuan untuk melegalisasikan sebuah paradigma global
dalam pengembangan SDM yang berkualitas.
Menurut
Hadari Nawawi SDM adalah daya yang bersumber dari manusia, yang berbentuk
tenaga, kekuatan atau energi. Sumber daya manusia mempunyai dua ciri, yaitu: 1)
personal yakni berupa pengetahuan, perasaan dan keterampilan, 2) interpersonal
yaitu hubungan antar manusia dengan lingkungannya. Emil Salim menyatakan bahwa
yang dimaksud dengan SDM adalah kekuatan daya pikir atau daya cipta manusia
yang tersimpan dan tidak dapat diketahui dengan pasti kapasitasnya. Beliau
menambahkan bahwa SDM dapat diartikan sebagai nilai dari perilaku seseorang
dalam mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, baik dalam kehidupan pribadi
maupun dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsa. Dengan demikian
kualitas SDM ditentukan oleh sikap mental manusia.[8]
Peningkatan
kualitas SDM, menurut Azra dapat dilaksanakan dalam keselarasan dengan visi dan
misi profetis Nabi, yakni untuk mendidik manusia, memimpin mereka ke jalan
Allah dan mengajar mereka untuk menegakkan masyarakat yang adil, sehat,
harmonis, sejahtera secara material maupun spiritual.[9]
Hal
diisyaratkan dalam Q.S Saba [34]: 28, “Dan Kami tidak mengutus, melainkan
kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai
pemberi peringatan” dan QS. Al-anbiya [21]: 107, “Dan tiadalah Kami mengutus
kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.
Kualitas SDM
menyangkut banyak aspek, yaitu aspek; sikap, mental, perilaku, kemampuan,
intelegensi, agama, hukum dan kesehatan.[10]
Semua aspek tersebut pada dasarnya menjelma ke dalam dua potensi yang masing-masing
dimiliki oleh tiap individu, yaitu jasmaniah dan ruhaniah. Idealnya, aspek
jasmaniah selalu dipandu oleh ruhaniah yang bertindak sebagai faktor pendorong
yang muncul dari dalam diri manusia. Untuk mencapai SDM yang berkualitas, usaha
yang paling utama adalah memperbaiki potensi dari dalam manusia itu sendiri.
Hal ini menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap diri merupakan tujuan dari
pelaksanaan pendidikan Islam.
Sistem
pendidikan Islam dalam rangka mewujudkan SDM yang berkualitas, harus
mengorientasikan diri untuk menjawab segala tantangan yang muncul seiring
dengan perkembangan zaman dengan mengkritisi sedemikian rupa perkembangan
masyarakat. Pemenuhan kebutuhan tersebut dapat diatasi dengan reorientasi
kurikulum pendidikan Islam, di mana pembelajaran dalam berbagai disiplin
keilmuan (transdisiplin) harus diselaraskan dengan nilai-nilai dan diikat
dengan spiritualitas, bukan hanya dilihat dari segi pengembangan pengetahuan
belaka.
Pendekatan
integratif dapat diartikan sebagai penyatuan berbagai aspek ke dalam satu
keutuhan yang padu. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk melaksanakan
kegiatan belajar-mengajar bahasa Indonesia dalam Kurikulum Bahasa Indonesia
adalah pendekatan integratif.[11]
Dalam pendidikan interdisipliner dapat diketahui bahwa dalam menyatukan
berbagai bidang ilmu untuk mencari ilmu baru yang akan muncul, maka dapat
diketahuui persamaan untuk dari pendekatan integratif dan pendekatan
interdisipliner.
Pendekatan Integratif
dapat dimaknakan sebagai pendekatan yang menyatukan beberapa aspek ke dalam
satu proses. Integratif terbagi menjadi interbidang studi dan antarbidang
studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi
diintegrasikan. Misalnya, mendengarkan diintegrasikan dengan berbicara dan
menulis. Menulis diintegrasikan dengan berbicara dan membaca. Materi kebahasaan
diintegrasikan dengan keterampilan bahasa. Integratif antarbidang studi
merupakan pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Misalnya, bahasa
Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lainnya.[12]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.
Transdisiplinaritas
(transdisciplinarity) atau transdisipliner (transdisciplinary)
merupakan istilah yang digunakan dalam dunia keilmuan sebagai sebuah pendekatan
multi perspektif. Istilah-istilah lain yang disandarkan pada kata “discipline”
adalah “multidisciplinary” dan “interdisciplinary”. Jika multidisciplinary
mengasumsikan adanya pembahasan atas sebuah tema melalui pendekatan dan
sudut pandang atas bidang studi masing-masing secara otonom, maka interdisciplinary
dalam konteks pendidikan mencoba mengintegrasikan tema bahasan ke dalam
beberapa mata pelajaran. Sedangkan pendekatan transdisipliner (transdisciplinary
approach) lebih melihat sebuah tema bahasan bukan saja dari perspektif mata
pelajaran, tetapi juga menimbang konteks kekinian dan kebutuhan siswa
berdasarkan bakat dan minatnya. Dengan demikian, transdisciplinary approach dalam
konteks pembelajaran membutuhkan keterampilan dan kreativitas guru yang luar
biasa untuk memandang dan mengajarkan sebuah subjek/materi/mata pelajaran
berdasarkan tema, konsep, sekaligus keterampilan yang sesuai dengan kehidupan
nyata dan minat siswa dalam mendorong nilai-nilai kebaikan ke arah kebajikan
yang pasti dan bertanggungjawab
2.
Guru merupakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang
sangat penting dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu kajian-kajian
transformatif pendidikan islam memberi warna tersendiri bagi pengembanga disiplin
keilmuan untuk melegalisasikan sebuah paradigma global dalam pengembangan SDM
yang berkualitas.
Menurut Hadari Nawawi SDM adalah daya yang bersumber dari manusia,
yang berbentuk tenaga, kekuatan atau energi. Sumber daya manusia mempunyai dua
ciri, yaitu: 1) personal yakni berupa pengetahuan, perasaan dan keterampilan,
2) interpersonal yaitu hubungan antar manusia dengan lingkungannya. Emil Salim
menyatakan bahwa yang dimaksud dengan SDM adalah kekuatan daya pikir atau daya
cipta manusia yang tersimpan dan tidak dapat diketahui dengan pasti
kapasitasnya. Beliau menambahkan bahwa SDM dapat diartikan sebagai nilai dari
perilaku seseorang dalam mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, baik dalam
kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsa.
Dengan demikian kualitas SDM ditentukan oleh sikap mental manusia
DAFTAR PUSTAKA
Ahsan Sofyan,
2011. Pendekatan Transdisciplinary sebagai Suatu Alternatif di dalam
Memecahkan Masalah Pendidikan. Tersedia: http://andiaccank.blogspot.com/2011/10/pendekatan-transdisciplinary-sebagai.html.
Azyumardi Azra,
1999. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru.
Jakarta: Logos Wacana Ilmu,
Imam Mawardi, “Pendiidkan Islam Transdisipliner dan Sumber Daya
Manusia Di Indonesia,” 16 Januari 2018.
Said Hamid
Hasan, “Transdisciplinarity dalam Pendidikan dengan Referensi Khusus
pada Kurikulum”, Makalah disajikan dalam Seminar tentang
Transdisciplinarity, di Univeristas Negeri
T. Z. Djaafar, 2001. Pendidikan
Non Formal Dan Peningkatan Sumber Daya Manusia Dalam Pembangunan. Padang:
FIP UNP.
UNESCO. 1998.”Transdisciplinarity:
Stimulating Synergies, Integrating Knowledge”
Tersedia:http://unesdoc.unesco.org/images/0011/001146/114694eo. pdf
[1] Imam Mawardi,
“Pendiidkan Islam Transdisipliner dan Sumber Daya Manusia Di Indonesia,” 16
Januari 2018, p. 1.
[3] Ahsan Sofyan, 2011.
Pendekatan Transdisciplinary sebagai Suatu Alternatif di dalam Memecahkan
Masalah Pendidikan. Tersedia:
http://andiaccank.blogspot.com/2011/10/pendekatan-transdisciplinary-sebagai.html.
[4] UNESCO. 1998.”Transdisciplinarity:
Stimulating Synergies, Integrating Knowledge” Tersedia:http://unesdoc.unesco.org/images/0011/001146/114694eo.
pdf
[5] Ibid. 31
[6] Said Hamid
Hasan, “Transdisciplinarity dalam Pendidikan dengan Referensi Khusus
pada Kurikulum”, Makalah disajikan dalam Seminar tentang
Transdisciplinarity, di Univeristas Negeri
[7] Ibid
[8] T.
Z. Djaafar, 2001. Pendidikan Non Formal Dan Peningkatan Sumber Daya Manusia
Dalam Pembangunan. Padang: FIP UNP, hlm. 2
[9] Azyumardi
Azra, 1999. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru.
Jakarta: Logos Wacana Ilmu, hlm, 55.
[10] Djaafar, Pendidikan
Non Formal Dan….., hlm. 2
[11]
Imam Syafi’ie, Mam’ur Saadie,
Roekhan. 2001: 2.19
[12]
Mansoer Pateda, Linguistik Terapan,
Jakarta: Nusa Indah, 1991, hlm. 12
Tidak ada komentar:
Posting Komentar