Sabtu, 20 Januari 2018

GURU DALAM PEERSPEKTIF PENDIDIKAN INTERDISIPLINR




GURU DALAM PEERSPEKTIF PENDIDIKAN INTERDISIPLINR
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah:
PENDIDIKAN INTERDISIPLINER


Dosen Pengampu:
Dr. Afiful Ikhwan, M.Pd.I





Oleh:

Jarmi
15111940

PAI C-SMT 5

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO
Januari 2017


DAFTAR ISI

Halaman Judul ........................................................................................          i
Daftar Isi ................................................................................................          ii      

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang......................................................................          1
B.     Rumusan Masalah.................................................................          2
C.     Tujuan Penulisan ..................................................................          2                  

BAB II PEMBAHASAN
A.       Pendidikan Islam Transdisipliner ........................................          3
B.        Sumber daya manusia (SDM) Guru dalam Perspektif Pen-
Didikan Interdisipliner ........................................................          5
C.        Pendekatan Integratif dalam Pedidikan Interdisipliner ......          6      

BAB III PENUTUP
Kesimpulan................................................................................          8

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................          10





 

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar belakang Masalah
Pendidikan Islam dengan berbagai karakteristiknya yang penuh dinamika tidak bisa dilepaskan dari persoalan-persoalan yang melingkupinya, mulai dari persoalan sistem yang dikembangkan, dikotomi keilmuan, kurikulum, hingga orientasi output SDM (Sumber Daya Manusia) yang diharapkan terutama sosok seorang guru.[1] Dalam hal ini guru sebagai sumber daya manusia yang memegang peranan penting dalam suatu proses pendidikan. Sebenarnya tidak hanya guru yang memegang peranan penting dalam proses pendidika, sarana prasarana bukan manusia juga memegang peranan penting dalam proses pendidikan. Dalam hal itu suatu proses pendidikan akan berjalan jika semua hal yang berkaitan dengan suatu proses pendidikan saling melengkapi, maka akan terjadi suatu proses pendidikan yang stabil, tertata, dan berjalan dengan sistematis sesuai dengan aturan dalam sebuah lembaga pendidikan
Persoalan-persoalan tersebut menjadi problem menahun yang mestinya dapat dicarikan solusinya sebaik dan secepat mungkin. Selama ini apabila dihubungkan dengan disiplin keilmuan yang dikembangkan, ada anggapan bahwa pendidikan Islam identik dengan ilmu-ilmu agama saja. Padahal sejatinya, pendidikan Islam itu membelajarkan dan mengembangkan berbagai disiplin ilmu secara total. Pendidikan Islam idealnya tidak hanya sebatas menanamkan spirit ritual dalam menjalani perbagai dinamika kehidupan, tetapi juga mampu memberi makna dengan beragam aktivitas sehingga menyumbang secara aktual terhadap peradaban.[2]
Dalam suatu proses pembalajaran tidak ada suatu pendekatan pembelajaran yang tepat untuk semua topik dan semua situasi, oleh karena itu guru dalam menentukan metode dan pendekatan pembelajaran apa yang harus dipilih harus senantiasa memperhatikan kondisi siswa, sarana prasarana yang ada maupun materi pembalajaran apa yang akan dibahas.
B.    Rumusan masalah.
1.      Apa pengertian Pendidikan Islam transdisipliner?
2.      Bagaimana definisi Sumber Daya Manusia (SDM) guru dalam perspektif pendidikan Islam?
3.      Apa pengertian dari pendekatan integratif dalam pendidikan interdisipliner?
C.  Tujuan penulisan
Adapun tujuan yang ingin di capai adalah;
1.      Untuk mngetahui apa pengertian Pendidikan Islam transdisipliner.
2.      Untuk mengetahui bagaimana pengertian guru dalam perspektif pedidikan islam.
3.      Dapat mengetahui pengertian pendekatan integratif. dalam pendidikan interdisipliner.

















BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pendidikan Islam Transdisipliner  
Transdisiplinaritas (transdisciplinarity) atau transdisipliner (transdisciplinary) merupakan istilah yang digunakan dalam dunia keilmuan sebagai sebuah pendekatan multi perspektif. Istilah-istilah lain yang disandarkan pada kata “discipline” adalah “multidisciplinary” dan “interdisciplinary”. Jika multidisciplinary mengasumsikan adanya pembahasan atas sebuah tema melalui pendekatan dan sudut pandang atas bidang studi masing-masing secara otonom, maka interdisciplinary dalam konteks pendidikan mencoba mengintegrasikan tema bahasan ke dalam beberapa mata pelajaran. Sedangkan pendekatan transdisipliner (transdisciplinary approach) lebih melihat sebuah tema bahasan bukan saja dari perspektif mata pelajaran, tetapi juga menimbang konteks kekinian dan kebutuhan siswa berdasarkan bakat dan minatnya. Dengan demikian, transdisciplinary approach dalam konteks pembelajaran membutuhkan keterampilan dan kreativitas guru yang luar biasa untuk memandang dan mengajarkan sebuah subjek/materi/mata pelajaran berdasarkan tema, konsep, sekaligus keterampilan yang sesuai dengan kehidupan nyata dan minat siswa dalam mendorong nilai-nilai kebaikan ke arah kebajikan yang pasti dan bertanggungjawab.[3]
Menurut Wikipedia, “Transdisiplinaritas atau transdisipliner dikonotasikan sebagai strategi penelitian lintas disiplin untuk menciptakan suatu pendekatan yang holistik”. Dalam Simposium Internasional tentang transdisciplinarity yang diselenggarakan oleh UNESCO,[4] beberapa pakar mendefiniskan bahwa “transdisiplinaritas adalah konsep dan praktik pengetahuan yang terintegrasi, untuk menangani isu-isu penting berdasarkan prosedur tertentu secara integratif. Konsep disiplin berhubungan erat dengan dua persoalan yaitu ketidakmengertian seseorang terhadap bahasa yang digunakan oleh disiplin ilmu itu sendiri, kemungkinan kedua adalah adanya pengertian bahwa bahasa yang digunakan oleh disiplin ilmu itu sepakat memperlakukan disiplin ilmu itu dengan ilmu yang berbeda”. Secara sederhana transdiscilinary merupakan suatu proses yang dicirikan dengan adanya integrasi upaya dari berbagai disiplin (multy-disciplines) untuk memahami suatu isu atau masalah.[5]
Dalam menjelaskan asas transdisiplinaritas pendidikan, Hasan mengemukakan bahwa pendidikan transdisiplin atau transdisipliner tetap berasaskan pada pendidikan disiplin ilmu tetapi tidak dalam pengertian pendidikan disiplin ilmu yang tradisional. Pendidikan transdisipliner memiliki pandangan bahwa kepentingan umat manusia adalah kepentingan utama dan bukan kepentingan disiplin ilmu. Disiplin ilmu tidak boleh menjadi pembatas kotak cara berfikir, bersikap dan bertindak seseorang; disiplin ilmu yang diajarkan harus bersifat terbuka dan kebenaran yang diajarkan selalu berkembang. Penekanan pada aspek manusia ini bukan suatu yang baru dalam pendidikan tetapi dominasi penguasaan “scholastic knowledge” yang mendominasi kepedulian pada unsur manusia tersebut.[6]
Gerakan transdisipliner secara resmi dicanangkan melalui suatu deklarasi, tahun 1994, ketika diselenggarakan kongres pertama transdisciplinary di Convenco da Arrabida, Portugal. Charter/piagam yang ditulis dalam delapan bahasa (Inggris, Perancis, Portugis, Spanyol, Romania, Italia, Arab, dan Turki) berisikan preamble, 14 article dan satu artikel final ini menjadi “fundamental principles” landasan bagi pengembangan visi, ruang lingkup, penelitian, pendidikan, moral dan cara kerja masyarakat transdisipliner. Preamble berisikan enam pernyataan mengenai dunia ilmu pengetahuan, kehidupan masyarakat dunia, perkembangan teknologi yang melahirkan ketimpangan-ketimpangan dan ketidakmampuan menyelesaikan berbagai masalah kemanusiaan. Keempat belas artikel yang dirumuskan antara lain berkenaan dengan permasalahan realitas, posisi transdisipliner terhadap disiplin ilmu yang ada, objektivitas dan definisi keilmuan, filsafat, agama dan mitos, kebudayaan, pendidikan, ekonomi, etika, dan toleransi keilmuan.[7] Tujuan dikembangkan transdisiplinaritas ini bukan untuk membentuk suatu disiplin ilmu baru, melainkan sebuah pendekatan untuk membangun paradigma dan pemahaman yang diperlukan untuk memecahkan problem keilmuan dengan proses lintas disiplin dari berbagai perspektif yang berbeda dalam dinamika peradaban yang terus berkembang.
B.  Sumber Daya Manusia (SDM) Guru dalam Perspektif Pendidikan Interdisipliner
Guru merupakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu kajian-kajian transformatif pendidikan islam memberi warna tersendiri bagi pengembanga disiplin keilmuan untuk melegalisasikan sebuah paradigma global dalam pengembangan SDM yang berkualitas.
Menurut Hadari Nawawi SDM adalah daya yang bersumber dari manusia, yang berbentuk tenaga, kekuatan atau energi. Sumber daya manusia mempunyai dua ciri, yaitu: 1) personal yakni berupa pengetahuan, perasaan dan keterampilan, 2) interpersonal yaitu hubungan antar manusia dengan lingkungannya. Emil Salim menyatakan bahwa yang dimaksud dengan SDM adalah kekuatan daya pikir atau daya cipta manusia yang tersimpan dan tidak dapat diketahui dengan pasti kapasitasnya. Beliau menambahkan bahwa SDM dapat diartikan sebagai nilai dari perilaku seseorang dalam mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsa. Dengan demikian kualitas SDM ditentukan oleh sikap mental manusia.[8]
Peningkatan kualitas SDM, menurut Azra dapat dilaksanakan dalam keselarasan dengan visi dan misi profetis Nabi, yakni untuk mendidik manusia, memimpin mereka ke jalan Allah dan mengajar mereka untuk menegakkan masyarakat yang adil, sehat, harmonis, sejahtera secara material maupun spiritual.[9]
Hal diisyaratkan dalam Q.S Saba [34]: 28, “Dan Kami tidak mengutus, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan” dan QS. Al-anbiya [21]: 107, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.
Kualitas SDM menyangkut banyak aspek, yaitu aspek; sikap, mental, perilaku, kemampuan, intelegensi, agama, hukum dan kesehatan.[10] Semua aspek tersebut pada dasarnya menjelma ke dalam dua potensi yang masing-masing dimiliki oleh tiap individu, yaitu jasmaniah dan ruhaniah. Idealnya, aspek jasmaniah selalu dipandu oleh ruhaniah yang bertindak sebagai faktor pendorong yang muncul dari dalam diri manusia. Untuk mencapai SDM yang berkualitas, usaha yang paling utama adalah memperbaiki potensi dari dalam manusia itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap diri merupakan tujuan dari pelaksanaan pendidikan Islam.
Sistem pendidikan Islam dalam rangka mewujudkan SDM yang berkualitas, harus mengorientasikan diri untuk menjawab segala tantangan yang muncul seiring dengan perkembangan zaman dengan mengkritisi sedemikian rupa perkembangan masyarakat. Pemenuhan kebutuhan tersebut dapat diatasi dengan reorientasi kurikulum pendidikan Islam, di mana pembelajaran dalam berbagai disiplin keilmuan (transdisiplin) harus diselaraskan dengan nilai-nilai dan diikat dengan spiritualitas, bukan hanya dilihat dari segi pengembangan pengetahuan belaka.
Pendekatan integratif dapat diartikan sebagai penyatuan berbagai aspek ke dalam satu keutuhan yang padu. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar bahasa Indonesia dalam Kurikulum Bahasa Indonesia adalah pendekatan integratif.[11] Dalam pendidikan interdisipliner dapat diketahui bahwa dalam menyatukan berbagai bidang ilmu untuk mencari ilmu baru yang akan muncul, maka dapat diketahuui persamaan untuk dari pendekatan integratif dan pendekatan interdisipliner.
Pendekatan Integratif dapat dimaknakan sebagai pendekatan yang menyatukan beberapa aspek ke dalam satu proses. Integratif terbagi menjadi interbidang studi dan antarbidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Misalnya, mendengarkan diintegrasikan dengan berbicara dan menulis. Menulis diintegrasikan dengan berbicara dan membaca. Materi kebahasaan diintegrasikan dengan keterampilan bahasa. Integratif antarbidang studi merupakan pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Misalnya, bahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lainnya.[12]








BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Transdisiplinaritas (transdisciplinarity) atau transdisipliner (transdisciplinary) merupakan istilah yang digunakan dalam dunia keilmuan sebagai sebuah pendekatan multi perspektif. Istilah-istilah lain yang disandarkan pada kata “discipline” adalah “multidisciplinary” dan “interdisciplinary”. Jika multidisciplinary mengasumsikan adanya pembahasan atas sebuah tema melalui pendekatan dan sudut pandang atas bidang studi masing-masing secara otonom, maka interdisciplinary dalam konteks pendidikan mencoba mengintegrasikan tema bahasan ke dalam beberapa mata pelajaran. Sedangkan pendekatan transdisipliner (transdisciplinary approach) lebih melihat sebuah tema bahasan bukan saja dari perspektif mata pelajaran, tetapi juga menimbang konteks kekinian dan kebutuhan siswa berdasarkan bakat dan minatnya. Dengan demikian, transdisciplinary approach dalam konteks pembelajaran membutuhkan keterampilan dan kreativitas guru yang luar biasa untuk memandang dan mengajarkan sebuah subjek/materi/mata pelajaran berdasarkan tema, konsep, sekaligus keterampilan yang sesuai dengan kehidupan nyata dan minat siswa dalam mendorong nilai-nilai kebaikan ke arah kebajikan yang pasti dan bertanggungjawab
2.      Guru merupakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu kajian-kajian transformatif pendidikan islam memberi warna tersendiri bagi pengembanga disiplin keilmuan untuk melegalisasikan sebuah paradigma global dalam pengembangan SDM yang berkualitas.
Menurut Hadari Nawawi SDM adalah daya yang bersumber dari manusia, yang berbentuk tenaga, kekuatan atau energi. Sumber daya manusia mempunyai dua ciri, yaitu: 1) personal yakni berupa pengetahuan, perasaan dan keterampilan, 2) interpersonal yaitu hubungan antar manusia dengan lingkungannya. Emil Salim menyatakan bahwa yang dimaksud dengan SDM adalah kekuatan daya pikir atau daya cipta manusia yang tersimpan dan tidak dapat diketahui dengan pasti kapasitasnya. Beliau menambahkan bahwa SDM dapat diartikan sebagai nilai dari perilaku seseorang dalam mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsa. Dengan demikian kualitas SDM ditentukan oleh sikap mental manusia





















DAFTAR PUSTAKA
Ahsan Sofyan, 2011. Pendekatan Transdisciplinary sebagai Suatu Alternatif di dalam Memecahkan Masalah Pendidikan. Tersedia: http://andiaccank.blogspot.com/2011/10/pendekatan-transdisciplinary-sebagai.html.
Azyumardi Azra, 1999. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu,
Imam Mawardi, “Pendiidkan Islam Transdisipliner dan Sumber Daya Manusia Di Indonesia,” 16 Januari 2018.
Said Hamid Hasan, “Transdisciplinarity dalam Pendidikan dengan Referensi Khusus pada Kurikulum”, Makalah disajikan dalam Seminar tentang Transdisciplinarity, di Univeristas Negeri
T. Z. Djaafar, 2001. Pendidikan Non Formal Dan Peningkatan Sumber Daya Manusia Dalam Pembangunan. Padang: FIP UNP.
UNESCO. 1998.”Transdisciplinarity: Stimulating Synergies, Integrating Knowledge” Tersedia:http://unesdoc.unesco.org/images/0011/001146/114694eo. pdf



[1] Imam Mawardi, “Pendiidkan Islam Transdisipliner dan Sumber Daya Manusia Di Indonesia,” 16 Januari 2018, p. 1.
[2] Ibid. ,
[3] Ahsan Sofyan, 2011. Pendekatan Transdisciplinary sebagai Suatu Alternatif di dalam Memecahkan Masalah Pendidikan. Tersedia: http://andiaccank.blogspot.com/2011/10/pendekatan-transdisciplinary-sebagai.html.
[4] UNESCO. 1998.”Transdisciplinarity: Stimulating Synergies, Integrating Knowledge” Tersedia:http://unesdoc.unesco.org/images/0011/001146/114694eo. pdf
[5] Ibid. 31
[6] Said Hamid Hasan, “Transdisciplinarity dalam Pendidikan dengan Referensi Khusus pada Kurikulum”, Makalah disajikan dalam Seminar tentang Transdisciplinarity, di Univeristas Negeri
[7] Ibid
[8] T. Z. Djaafar, 2001. Pendidikan Non Formal Dan Peningkatan Sumber Daya Manusia Dalam Pembangunan. Padang: FIP UNP, hlm. 2
[9] Azyumardi Azra, 1999. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, hlm, 55.
[10] Djaafar, Pendidikan Non Formal Dan….., hlm. 2
[11] Imam Syafi’ie, Mam’ur Saadie, Roekhan. 2001: 2.19
[12] Mansoer Pateda, Linguistik Terapan, Jakarta: Nusa Indah, 1991, hlm. 12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar